RUMPUT LAUT NAIK KELAS! TIM PENGABDIAN UNIBOS DORONG DESA AMPEKALE MAROS TEMBUS STANDAR EKSPOR LEWAT TEKNOLOGI “PRESS BALL” DAN STRATEGI B2B

banner 120x600
banner 468x60

Makassar,17 Desember 2025,redaksimedia.com-Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Peningkatan Kualitas Produksi dan Pemasaran Produk Unggulan Rumput Laut di Desa Ampekale, Kabupaten Maros” menghadirkan dampak nyata bagi penguatan ekonomi pesisir Sulawesi Selatan. Kegiatan ini berfokus pada peningkatan kualitas produksi serta pemasaran rumput laut melalui penerapan teknologi tepat guna dan penguatan kapasitas kelembagaan mitra, sehingga komoditas unggulan desa tidak hanya produktif, tetapi juga siap bersaing di pasar berstandar ekspor.

Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Ir. Lukman S, S.Psi., S.Si., S.E., M.M. (NIDN: 0931127506) sebagai Ketua Tim, bersama anggota tim Ir. Baharuddin, M.Si., Ph.D, Prof. Dr. Chalid Imran Musa, M.Si, dan Dr. Rampeng, S.Pd., M.Pd. Kolaborasi lintas keahlian ini memperkuat pendekatan program yang tidak hanya teknis, tetapi juga menyentuh sisi manajerial, kelembagaan, dan strategi pasar—sebuah langkah komprehensif yang mempertegas kapasitas akademik Universitas Bosowa dalam menghasilkan pengabdian yang berdampak dan terukur.

banner 325x300

Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, dikenal sebagai kawasan pesisir dengan potensi budidaya rumput laut yang tinggi, khususnya Gracilaria sp. dan Eucheuma cottonii. Komoditas ini menjadi sumber utama penghidupan masyarakat, namun selama ini proses budidaya dan pascapanen masih dilakukan secara tradisional. Pengeringan sangat bergantung pada cuaca, sementara produk umumnya dijual dalam bentuk curah tanpa pemadatan, sehingga harga berada di kisaran Rp6.500/kg dan nilai tambah di tingkat petani belum optimal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, program PkM ini menggandeng dua mitra utama dalam skema rantai pasok terpadu, yaitu Kelompok Cahaya Rumput Laut sebagai mitra hulu dan CV Anugerah Global Agriculture (AGA) sebagai mitra hilir yang berperan sebagai eksportir. Intervensi program meliputi pengadaan bibit unggul, peralatan pascapanen, serta penyediaan mesin press ball guna mendukung standarisasi mutu rumput laut kering sesuai kebutuhan pasar ekspor. Tidak hanya itu, program juga menyelenggarakan pelatihan teknis dan manajemen usaha, termasuk penguatan pemasaran digital bagi mitra hilir.

Hasil sementara menunjukkan perubahan signifikan. Dari sisi hulu, produksi rumput laut kering meningkat dari rata-rata 320–400 kg per siklus menjadi 420–500 kg per siklus atau naik sekitar 25%, didorong oleh bibit unggul dan perbaikan prosedur pascapanen. Mutu produk juga lebih stabil—warna lebih cerah dan kadar air lebih terkontrol—yang berdampak langsung pada kenaikan harga jual dari Rp6.500/kg menjadi Rp8.500/kg, atau meningkat sekitar 30%. Dari sisi hilir, mesin press ball mempercepat proses pemadatan dan menghasilkan bale rumput laut yang lebih seragam sesuai standar buyer, meningkatkan efisiensi dan memperkuat daya saing ekspor.

Ketua Tim, Dr. Ir. Lukman S, S.Psi., S.Si., S.E., M.M., menegaskan bahwa pengabdian ini dirancang untuk menghadirkan transformasi yang terukur, dari produksi hingga pemasaran.

“Kami tidak ingin pengabdian berhenti pada pelatihan seremonial. Program ini kami desain agar masyarakat pesisir memiliki sistem kerja yang lebih rapi—mulai dari bibit, pascapanen higienis, pemadatan standar ekspor, hingga pemasaran digital. Tujuannya jelas: nilai tambah harus naik, posisi tawar petani harus menguat,” tegasnya.

Sementara itu, penguatan pemasaran juga menjadi perhatian penting. Mitra hilir mulai didorong untuk meningkatkan visibilitas ekspor melalui platform business-to-business (B2B) seperti Alibaba dan Indotrading, disertai pembuatan profil usaha dan konten promosi digital. Ke depan, program akan difokuskan pada optimalisasi penggunaan mesin press, penerapan pencatatan digital sederhana untuk produksi dan transaksi, serta penguatan promosi daring agar peluang buyer baru dapat tumbuh lebih cepat dan konsisten.

Secara strategis, program ini berkontribusi langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 1 (Tanpa Kemiskinan), 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan 14 (Ekosistem Lautan). Dampak sosial juga mulai terlihat melalui penguatan kolaborasi antar pelaku usaha lokal, meningkatnya keterlibatan anggota kelompok (dari 15 menjadi 20 orang), serta terbukanya peluang peran perempuan dalam aktivitas pengeringan, sortir, dan pengemasan. Dengan intervensi teknologi tepat guna dan pendampingan berkelanjutan, Desa Ampekale memiliki peluang besar menjadi model praktik baik pemberdayaan ekonomi pesisir yang inovatif dan mandiri berbasis ekonomi biru.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *