LPS Hadir di Unhas, Ajak Generasi Muda Bijak Kelola Keuangan di Era Digital

banner 120x600
banner 468x60

MAKASSAR,12 Juni 2026,redaksimedia.com – Rendahnya tingkat literasi di kalangan generasi muda masih menjadi tantangan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kemampuan memahami informasi secara kritis, tetapi juga berdampak pada cara generasi muda mengelola keuangan dan mengambil keputusan finansial dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Farid Azhar Nasution, saat menyampaikan kuliah umum bertema “Kesadaran Finansial: Fondasi Integritas dan Kesadaran Kemandirian Generasi Muda”. Kegiatan ini berlangsung di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Kampus Unhas Tamalanrea, pada Jum’at (12/6).

banner 325x300

Generasi saat ini sesungguhnya memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai sumber informasi melalui gadget dan internet. Namun, kemudahan tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan meningkatnya minat membaca dan kemampuan memahami informasi secara mendalam.

Farid menjelaskan bahwa rendahnya literasi berpengaruh langsung terhadap perilaku keuangan masyarakat, khususnya generasi muda. Berbagai fenomena sosial seperti _fear of missing out_ (FOMO), _you only live once_ (YOLO), dan _fear of other people’s opinion_ (FOPO) kerap memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan finansial yang kurang rasional.

“Dorongan untuk mengikuti tren, menjaga gengsi, maupun memenuhi gaya hidup tertentu sering kali membuat seseorang mengabaikan kemampuan finansial yang dimilikinya. Akibatnya, berbagai instrumen pembiayaan konsumtif menjadi pilihan instan untuk memenuhi keinginan jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak jangka Panjang,” jelas Farid.

Menurut Farid, kondisi tersebut tercermin dari tingginya penggunaan layanan pinjaman online oleh kelompok usia muda, yang mencapai hingga 60 persen. Fakta ini mengindikasikan perlunya literasi dan kesadaran finansial diperkuat sejak dini, agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam berbagai risiko keuangan.

“Tantangan terbesar sering kali bukan pada jumlah uang yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang mampu mengelola keinginannya. Diskon, fasilitas paylater, dan berbagai bentuk cicilan yang tersedia saat ini menuntut masyarakat untuk memiliki kemampuan mengendalikan diri dan menentukan prioritas,” tambah Farid.

Sebagai langkah awal membangun kesadaran finansial, Farid mendorong generasi muda untuk membiasakan diri menabung secara rutin di bank. Kebiasaan tersebut dinilai tidak hanya membantu pengelolaan keuangan yang lebih baik, tetapi juga membangun disiplin dan kemampuan merencanakan masa depan secara lebih terarah.

Farid juga mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip “menyisihkan, bukan menyisakan” dalam mengelola pendapatan. Menurutnya, sebagian pendapatan perlu dialokasikan terlebih dahulu untuk tabungan atau kebutuhan jangka panjang sebelum digunakan untuk berbagai pengeluaran lainnya. Selain itu, kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan menjadi pondasi penting dalam membangun ketahanan finansial.

Pada kesempatan yang sama, Farid menjelaskan bahwa sektor keuangan nasional masih didominasi oleh industri perbankan. Namun demikian, tingkat pemahaman masyarakat mengenai sistem perbankan dan mekanisme perlindungan simpanan masih relatif rendah. Karena itu, LPS terus berupaya meningkatkan edukasi publik mengenai pentingnya sistem perbankan yang sehat serta peran lembaga tersebut dalam menjamin simpanan nasabah dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan nasional.

Dirinya berharap, mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa dapat menjadi agen perubahan yang turut mendorong peningkatan literasi keuangan di masyarakat. Dengan pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan, generasi muda diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih bijaksana dan terhindar dari berbagai jebakan finansial yang dapat menghambat masa depan mereka.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D,. Sp.BM(K) menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara kedua institusi. Menurutnya, kemitraan dengan lembaga strategis nasional seperti LPS menjadi bagian dari upaya Unhas memperkaya pengalaman belajar mahasiswa melalui penguatan literasi, wawasan profesional, dan keterhubungan dengan dunia kerja.

“Kami ingin mendekatkan mahasiswa dengan dunia usaha, dunia industri, dan berbagai mitra strategis agar mereka tidak hanya memperoleh teori di ruang kelas, tetapi pengalaman nyata yang dapat memperkaya kompetensi dan kesiapan mereka menghadapi dunia kerja. Karena itu, kami sangat mengapresiasi dukungan dan kolaborasi LPS dalam memperkuat literasi keuangan di lingkungan Unhas,” jelas Prof Ruslin.

Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama sebagai bentuk komitmen dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan literasi keuangan. (*)

Loading

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *