Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel Teken PKS dengan Unhas, Mahasiswa Kini Diajak Belajar Langsung dari Arsip

banner 120x600
banner 468x60

Makassar,30 Juni 2026,redaksimedia.com-Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan mengubah cara memperkenalkan arsip kepada kalangan akademisi.

Jika selama ini pendekatan yang digunakan adalah Arsip Goes to Campus, kini konsep tersebut bergeser menjadi Student Goes to Archives, yakni mahasiswa yang didorong datang langsung ke lembaga kearsipan untuk memanfaatkan arsip sebagai sumber pembelajaran dan penelitian.

banner 325x300

Perubahan konsep itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin, serta komunitas Arsip Timur di Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, Senin (29/6/2026).

Penandatanganan kerja sama dihadiri Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel Prof Muhammad Jufri, Dekan FIB Unhas Prof Andi Muhammad Akhmar, Ketua Program Studi Magister Sejarah FIB Unhas Amrullah Amir yang juga pendiri Arsip Timur.

Selain itu, jajaran pejabat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, di antaranya Kepala Bidang Kearsipan Basri, Kepala Bidang Perpustakaan Andi Sangkawana, Koordinator Arsiparis Irzal Natsir, pengurus Asosiasi Arsiparis Indonesia (AAI), serta mahasiswa S1, S2, dan para pelajar.

Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Prof Muhammad Jufri mengatakan perubahan konsep tersebut dilakukan karena arsip merupakan dokumen autentik yang harus dijaga keasliannya sehingga tidak memungkinkan dipindahkan ke luar ruang penyimpanan.

“Awalnya konsep kami memang Arsip Goes to Campus, tetapi kami ubah menjadi Student Goes to Archives karena arsip tidak boleh dibawa keluar. Arsip harus tetap berada di tempat penyimpanannya agar keaslian atau autentisitasnya terjaga dan tidak rusak akibat terlalu sering dipindahkan atau disentuh,” kata Jufri.

Melalui konsep baru itu, mahasiswa didorong datang langsung ke UPT Jasa Kearsipan untuk memanfaatkan berbagai koleksi arsip sebagai sumber data primer dalam penelitian.

Saat ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel memiliki 48 khazanah arsip yang dapat diakses masyarakat sesuai prosedur layanan.

Menurut Jufri, kerja sama tersebut mempertemukan tiga unsur penting sekaligus, yakni pemerintah sebagai penyedia layanan dan regulasi, perguruan tinggi sebagai pusat riset, serta komunitas yang berperan mengembangkan literasi sejarah di tengah masyarakat.

Ia berharap kolaborasi tersebut mampu meningkatkan pemanfaatan arsip, bukan hanya sebagai dokumen administratif, tetapi juga sebagai sumber informasi ilmiah bagi dosen, mahasiswa, maupun peneliti.

“Kampus memiliki dosen, peneliti, mahasiswa, dan akademisi yang membutuhkan data primer. Arsip menjadi salah satu sumber paling autentik untuk penyusunan skripsi, tesis, disertasi, maupun penelitian sejarah,” ujarnya.

Jufri menambahkan, program tersebut juga sejalan dengan harapan Gubernur Sulawesi Selatan agar masyarakat dan kalangan akademisi semakin memanfaatkan layanan kearsipan sebagai sarana meningkatkan literasi, memperkuat penguasaan sejarah, serta menumbuhkan nilai-nilai luhur budaya bangsa dan daerah dalam mewujudkan Sulawesi Selatan yang maju dan berkarakter.

Program Student Goes to Archives juga tidak berhenti di Universitas Hasanuddin.

Dalam waktu dekat, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel akan memperluas kerja sama serupa dengan sejumlah perguruan tinggi lain, seperti Universitas Negeri Makassar (UNM), UIN Alauddin Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI), Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), hingga menyasar siswa SMA dan SMK di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Kepala UPT Jasa Kearsipan Dispus Arsip Sulsel Mustaana, mengatakan program tersebut merupakan upaya mengenalkan arsip kepada generasi muda sejak dini.

Menurutnya masih banyak mahasiswa yang belum mengetahui bahwa berbagai dokumen sejarah penting tersimpan di lembaga kearsipan dan dapat dimanfaatkan sebagai referensi akademik.

“Selama ini arsip sering dipandang hanya sebagai tempat menyimpan dokumen lama. Padahal arsip merupakan sumber informasi primer yang memiliki nilai sejarah, hukum, dan akademik. Melalui Student Goes to Archives, kami ingin memperkenalkan fungsi itu secara langsung kepada mahasiswa,” ungkapnya.

Ia berharap semakin banyak mahasiswa memanfaatkan layanan kearsipan sehingga budaya riset berbasis sumber primer dapat berkembang di Sulawesi Selatan.

“Kalau mahasiswa sudah terbiasa menggunakan arsip sejak di bangku kuliah, kualitas penelitian tentu akan semakin baik karena didukung data yang autentik dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Mustaana menambahkan, pendekatan yang diusung dalam program tersebut sengaja dibuat lebih ringan dan dekat dengan generasi muda agar arsip tidak lagi dipersepsikan sebagai sesuatu yang kaku dan membosankan.

“Kami ingin menghadirkan konsep tentang arsip yang ringan, santai, dan mudah diterima mahasiswa. Ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden, khususnya poin ketujuh tentang penguatan reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan yang akuntabel dan memperkuat upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi,” tuturnya.

Melalui pendekatan baru tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel berharap lembaga kearsipan tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat penyimpanan dokumen lama, melainkan menjadi ruang belajar, pusat riset, sekaligus laboratorium sejarah yang terbuka bagi masyarakat, khususnya kalangan akademisi dan generasi muda.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *