Jakarta,30 April 2026,redaksimedia.com-Indonesia membutuhkan talenta digital yang inovatif dan mampu menciptakan solusi yang implementatif untuk mendukung transformasi ekonomi keuangan digital Indonesia, menuju Indonesia 2045. “Peluncuran PIDI hari ini menjadi momentum bagi kita semua untuk berubah, untuk belajar, dan untuk memanfaatkan AI bagi berbagai kepentingan yang bermanfaat,” demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat meluncurkan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI): Digdaya x Hackathon di Bank Indonesia, Jakarta (30/4). Di lansir dari laman bi.go.id Momen peluncuran ini disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, dan dilakukan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ASPI, AFTECH, APUVINDO, dan LPPI[1]. Peluncuran juga diikuti oleh 800 tim peserta PIDI. Pada momentum tersebut, Bank Indonesia dan PBoC juga meresmikan implementasi QRIS Antarnegara Indonesia-Tiongkok, disaksikan oleh Besar Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno menekankan pentingnya memastikan inovasi memiliki makna dan dampak nyata, serta didukung oleh talenta yang mampu mengarahkan pemanfaatan teknologi secara tepat. “Bahwa inovasi penting, tetapi makna tidak boleh dilupakan. Tariklah gerbong itu melalui inovasi, sehingga teknologi memiliki makna. Teknologi harus dikendalikan oleh pilot-pilotnya,” ujar Pratikno. Pratikno juga menyampaikan pentingnya pendekatan Tech for Humanity yaitu setiap solusi tidak hanya unggul secara teknis, tetapi unggul dalam berorientasi untuk kepentingan publik dan berorientasi pada nilai – nilai kemanusiaan. Di tengah akselerasi pemanfaatan digital dan AI, Pemerintah juga telah menginisiasi Satuan Tugas (Satgas) Strategi Nasional AI Terintegrasi untuk merpercepat kesiapan Indonesia dalam menghadapi disrupsi yang ditimbulkan oleh teknologi kecerdasan buatan tersebut.
















