Makassar 20 September 2026,redaksimedia.com-Sulawesi
Selatan Memiliki Potensi Sumber daya alam yang memadai.Salah satu potensi sumber daya alamnya terletak di desa nuha kecamatan nuha kabupaten luwu timur. Di desa nuha terdapat tumbuhan liar atau pakis yang menjalar di bebatuan sekitar danau matano.Tumbuhan Pakis memiliki dua batang yakni batang luar dan batang dalam.Batang bagian dalam di gunakan oleh pengrajin-pengrajin sebagai bahan untuk menganyaman teduhu.
Anyaman teduhu berasal dari desa Nuha kecamatan nuha kabupaten Luwu timur Sulawesi Selatan.Teduhu berasal dari bahasa lokal Nuha artinya tertusuk.Bahan anyaman ini berasal dari tumbuhan resam (Dicranopteris Liniearis )atau jenis pakis yang menjalar ke pohon yang banyak di temukan di sekitaran pegunungan dan pinggiran danau matano.
Fungsi anyaman tersebut dulunya di jadikan sebagai wadah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,seiring berkembangnya waktu pengrajin telah mengembangkan produk anyaman yang menghasilkan berbagai bentuk mulai dari tempat tissu,keranjang dan tas serta mengkombinasikan berbagai bahan seperti kain dan kulit tanpa menghilangkan ciri khas tradisionalnya.
Salah Seorang Pengrajin di desa nuha Yulianti (37) saat di temui pada pameran dekranas Mengatakan Tradisi Menganyam di desa nuha sudah ada sejak tahun 1970 oleh pengrajin-pengrajin terdahulu,termasuk kedua orang tuanya secara turun-temurun.Tradisi Menganyam merupakan warisan budaya lokal yang secara perlahan mulai hilang atau pudar ,mengingat para pengrajin terdahulu sudah lanjut usia.Yulianti sendiri merupakan generasi ketiga yang mempertahankan budaya lokal menganyam.
Melihat Kondisi Ini, Yulianti merasa prihatin dan peduli terhadap warisan budaya lokal.Untuk itu dirinya mengajak generasi-generasi muda yang tergabung dalam komunitas teduhu untuk melestarikan warisan budaya lokal ini.Komunitas Teduhu terdiri dari 12 generasi muda yang memiliki keahliaan menganyam yang di wariskan dari orang tuanya.
Yulianti mengakui komunitas teduhu mendapat pendampingan dan penguatan produk dari PT Vale telah membawa manfaat bagi pengrajin di desanya. Tradisi menganyam yang sudah ada sejak tahun 1970-an kini terus berkembang secara estetika dan variasi produk sejak para pengrajin mulai memanfaatkan serat teduhu.Selain itu hasil anyaman bisa meningkatkan perekonomian warga desa nuha.
“Bersama PT Vale, kami bisa melakukan inovasi produk mulai dari kotak tisu hingga tas modern, sekaligus mengajak anak-anak muda di desa untuk ikut menjaga tradisi ini agar tidak punah. Kesempatan mengenalkan teduhu di ajang Dekranas ini sangat berharga untuk memperluas pasar dan membuka peluang kerja sama baru,” tutur Yulianti optimis.
Vale Hadirkan Anyaman Teduhu di Ajang Dekranas
Komitmen untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat di sekitar wilayah operasional menjadi pilar utama dalam penerapan praktik pertambangan berkelanjutan yang dijalankan PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale). Salah satu wujud nyata yang dilakukan adalah penguatan produk kriya lokal, anyaman teduhu yang dipamerkan melalui ajang Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).
Produk kerajinan binaan PT Vale tersebut ditampilkan dalam kegiatan Pendampingan Kewirausahaan dan Pengembangan Produk Kerajinan Khas Daerah bagi UMKM Wilayah Sekitar Tambang dan Hulu Migas di ajang Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Nasional ke-54 dan HUT Dekranas ke-46 yang berlangsung di Makassar pada Juli 2026.
Bagi PT Vale, pengenalan anyaman teduhu merupakan bagian dari strategi investasi sosial untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat secara jangka panjang. Melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), penguatan produk lokal ini difokuskan pada aspek keberlanjutan tradisi melalui program regenerasi yang terukur.
Head of External Relation Sorowako and Outer Area PT Vale, Yusri Yunus, menjelaskan bahwa perusahaan menaruh perhatian besar pada keberlangsungan kearifan lokal. Saat ini, PT Vale membina generasi kedua pengrajin yang berusia 16 hingga 23 tahun untuk meneruskan keahlian para pengrajin senior yang kini berusia 40 hingga 50 tahun.
“Prinsip kami adalah tumbuh bersama masyarakat. Kami ingin memastikan produk lokal seperti teduhu memiliki daya saing tinggi dan tradisinya tetap lestari. Untuk itu, PT Vale memberikan pendampingan, mulai dari pengenalan bahan baku berkelanjutan, inovasi teknik menganyam, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), manajemen usaha, hingga membuka akses pasar seluas-luasnya,” kata Yusri.
Sebagai bentuk dukungan konkret, PT Vale kini membina dua komunitas, yaitu Komunitas Teduhu dari Desa Nuha (12 pengrajin) yang mengolah pakis hutan, serta Komunitas Sampa Konao dari Desa Matano (10 pengrajin muda) yang mengolah pelepah pohon aren. Perusahaan juga mengintegrasikan produk ini ke dalam ekosistem bisnisnya dengan menjadikannya sebagai souvenir resmi bagi para tamu korporat serta memasarkannya di jaringan hotel dan galeri.
Dekranas Apresiasi Upaya PT Vale Membina Pengrajin Muda
Kehadiran produk lokal ini memikat Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian, bersama Wakil Ketua II Dekranas, Sri Suparni Bahlil Lahadalia. Keduanya secara khusus mengunjungi booth PT Vale untuk berbincang dengan para pengrajin serta mengapresiasi keunikan tas anyaman dari tanaman teduhu (pakis hutan) asal Desa Nuha dan kain motif taipa khas Danau Matano, Luwu Timur.
“Kami tentu sangat bangga melihat semangat dan antusiasme para pengrajin, khususnya pengrajin muda yang terus bermunculan. Berkat pembinaan selama ini oleh perusahaan mitra ESDM seperti PT Vale, banyak pengrajin muda yang penuh semangat dan sudah mengikuti berbagai coaching,” ujar Sri Suparni Bahlil saat memberikan apresiasi di booth PT Vale.
Melalui sinergi erat bersama Kementerian ESDM, Kemenparekraf, dan Dekranas, PT Vale menegaskan kembali komitmennya bahwa penguatan potensi lokal dan pelestarian budaya merupakan investasi sosial yang tidak terpisahkan dari operasional bisnis pertambangan yang berkelanjutan.
Pandangan Akademisi Tentang Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Vale

Dosen Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Makassar dan juga pemerhati Usaha Mikro Kecil Menengah Dr Andi Nur Bau Massepe SE. MM CRBC Memberikan Apresiasi terhadap Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT.Vale. Menurutnya, program ini dapat membantu dan mendorong Usaha Mikro Kecil Menengah kerajinan anyaman teduhu yang ada di desa nuha kabupaten luwu timur untuk bisa naik kelas ke tingkat nasional.
Andi Nur Bau Mengatakan bahwa kontribusi PT.Vale berupa pendampingan kewirausahaan dan pengembangan produk kerajinan serta membuka akses pasar ke tingkat nasional terhadap komunitas anyaman teduhu dapat memberikan kontribusi nyata perekonomian bagi UMKM dan masyarakat local, serta membantu pemeritah daerah luwu timur.
“Setiap perusahaan dalam memberikan CSR bagi UMKM memiliki landasan hukum yaitu UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT)
dan PP No. 47 Tahun 2012
Ia berharap Program Pemberdayaan Masyarakat dari PT Vale memiliki inovasi social,mengingat PT. Vale adalah perusahaan internasional dalam menyusun program-program berkelanjutan yang lebih baik,dengan
melibatkan Universitas dan lembaga-lembaga NGO internasional perlu ditingkatkan.”ujarnya.”
Kehadiran produk-produk tersebut merupakan bagian dari implementasi Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang dijalankan secara berkelanjutan. Melalui program ini, perusahaan tidak hanya mendukung peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat di wilayah operasional, tetapi juga memastikan potensi budaya lokal memiliki ruang untuk berkembang dan memberikan nilai tambah bagi para pelaku usaha.
Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, mengatakan bahwa keikutsertaan dalam HKG PKK Nasional dan HUT Dekranas merupakan wujud komitmen perusahaan dalam memperkuat daya saing UMKM binaan melalui promosi pada ajang berskala nasional.
“Tujuan kami mendukung kegiatan ini adalah agar masyarakat binaan semakin mandiri secara ekonomi, usahanya berkelanjutan, dan produk-produk lokal mereka semakin dikenal, bukan hanya di tingkat daerah tetapi juga nasional,” ujar Endra di sela-sela pameran.
Pendampingan kepada UMKM dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan sarana pendukung usaha hingga penguatan kapasitas pelaku usaha. Berbagai pelatihan rutin diselenggarakan mencakup manajemen usaha, pemasaran, proses produksi, pengembangan kualitas produk, hingga strategi branding dengan menghadirkan narasumber berpengalaman dari tingkat nasional.
Selain peningkatan kapasitas, perusahaan juga terus memperluas akses promosi bagi UMKM binaan melalui partisipasi pada berbagai pameran, termasuk bersama Kementerian ESDM, serta menghadirkan UMKM Gallery sebagai etalase permanen produk-produk binaan di sejumlah lokasi.
Menurut Endra, anyaman Teduhu dipilih sebagai salah satu produk yang ditampilkan karena memiliki nilai budaya yang kuat sekaligus menghadapi tantangan regenerasi pengrajin. “Dulu pengrajinnya cukup banyak, tetapi sekarang mulai berkurang karena generasi muda kurang tertarik. Karena itu kami melakukan pelatihan kepada anak-anak muda agar keterampilan ini tidak terputus dan tetap lestari,” katanya.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Sejumlah produk UMKM binaan telah tampil dalam berbagai pameran tingkat provinsi maupun nasional, termasuk di Jakarta. Saat ini, sekitar lima hingga sepuluh UMKM binaan telah berhasil memperluas jangkauan pemasarannya hingga tingkat provinsi, dengan sektor makanan dan minuman masih menjadi kontributor terbesar.
Sebagai bagian dari strategi penguatan pasar, perusahaan juga memanfaatkan produk UMKM binaan sebagai suvenir resmi bagi tamu dan mitra. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan eksposur produk sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM di Luwu Timur.
















