UPT PPA Sulsel: Jangan Tunggu Kasus Viral, Pastikan Pesantren dan Sekolah Menjadi Ruang Aman bagi Anak

banner 120x600
banner 468x60

MAKASSAR 1 October 2026,redaksimedia.com– Mencuatnya sejumlah pemberitaan mengenai dugaan kekerasan terhadap santri di berbagai daerah menjadi perhatian UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Provinsi Sulawesi Selatan.

Kepala UPT PPA Provinsi Sulawesi Selatan, Yessy Yoanna Ariestiani, mengatakan kasus-kasus yang terungkap harus menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk memperkuat perlindungan anak, termasuk di pesantren dan lembaga pendidikan berasrama.

banner 325x300

Menurutnya, perhatian terhadap kasus tersebut tidak dimaksudkan untuk memberikan stigma terhadap pesantren. Pesantren memiliki peran penting dalam pendidikan agama dan pembentukan karakter. Justru karena besarnya kepercayaan masyarakat, lingkungan pendidikan harus memastikan anak yang dititipkan berada dalam keadaan aman.

> “Orang tua tidak sekadar menitipkan anak untuk belajar. Mereka menitipkan amanah, kepercayaan dan harapan. Ada yang berharap anaknya memperoleh pendidikan agama yang baik, ada yang ingin anaknya tumbuh mandiri, bahkan ada keluarga yang karena keterbatasan ekonomi mempercayakan pendidikan anaknya kepada pesantren. Apa pun latar belakangnya, harapan mereka sama: anaknya aman dan memiliki masa depan yang baik,” ujar Yessy.

 

*Kekerasan Tidak Hanya Seksual dan Fisik*

UPT PPA Sulsel mengingatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak hanya berbentuk kekerasan seksual dan fisik. Kekerasan dapat berupa kekerasan psikis, eksploitasi, perdagangan orang, kekerasan berbasis gender online maupun berbagai bentuk kekerasan lainnya.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa kekerasan tidak selalu terjadi di tempat yang dianggap berbahaya dan pelakunya tidak selalu orang asing.

> “Rumah, sekolah, pesantren dan lingkungan sosial seharusnya menjadi ruang aman. Tetapi kewaspadaan tetap diperlukan. Orang yang melakukan kekerasan juga dapat merupakan orang yang dikenal, dekat, dipercaya, bahkan memiliki posisi atau otoritas terhadap anak. Karena itu yang harus kita bangun bukan ketakutan atau kecurigaan kepada semua orang, tetapi sistem perlindungan yang membuat anak aman dan berani berbicara,” jelas Yessy.

Lingkungan berasrama memerlukan perhatian khusus karena anak berada jauh dari keluarga dan berinteraksi intensif dengan pendidik, pengasuh, senior maupun pihak lain yang memiliki otoritas.

Penghormatan kepada guru, pengasuh, ustaz maupun kiai tetap merupakan nilai yang baik. Namun penghormatan tidak boleh membuat anak takut menyampaikan ketidaknyamanan atau kekerasan yang dialaminya.

*Jangan Tunggu Kasus Menjadi Viral*

UPT PPA Sulsel mengajak lembaga pendidikan menjadikan berbagai kasus yang terungkap sebagai peringatan untuk memperkuat pencegahan, bukan menunggu kejadian serupa muncul di Sulawesi Selatan.

> “Kita tidak perlu menunggu kasus menjadi viral untuk memperbaiki sistem. Anak harus tahu ke mana harus bercerita dan melapor. Ketika anak berani bicara, dengarkan, jangan menyalahkan dan pastikan keselamatannya,” tegas Yessy.

Pesantren dan lembaga pendidikan didorong memiliki mekanisme pengaduan yang aman dan rahasia, memberikan edukasi tentang batas tubuh dan berbagai bentuk kekerasan, meningkatkan kapasitas pendidik dan pengasuh, serta memiliki prosedur penanganan yang berpihak pada keselamatan dan kepentingan terbaik anak.

Orang tua pun diingatkan tidak hanya menanyakan nilai, hafalan atau prestasi. Pertanyaan sederhana seperti “Kamu merasa aman di sana?” atau “Ada seseorang atau sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?” dapat membuka ruang bagi anak untuk bercerita.

*Berani Bicara, Berani Lapor*

UPT PPA Sulsel mengajak masyarakat yang mengalami, mengetahui atau menemukan dugaan kekerasan terhadap perempuan dan anak untuk tidak takut mencari pertolongan.

Hotline WhatsApp UPT PPA Sulsel 24 Jam:
0821 8905 9050

Instagram: @uptppasulawesiselatan
Facebook: PPA Sulawesi Selatan
Alamat: Jl. Hertasning VI No. 1, Kota Makassar

Layanan UPT PPA Sulsel gratis dan rahasia, serta korban dapat memperoleh layanan sesuai kebutuhan penanganannya.

Setiap anak yang dititipkan orang tuanya membawa harapan. Jangan menunggu korban berikutnya dan jangan menunggu kasus menjadi viral. Mari membangun rumah, sekolah, pesantren

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *