Jakarta, 19 September 2026,redaksimedia.com– PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) menyelenggarakan Fleet Safety Excellence Award 2026 sebagai bentuk apresiasi sekaligus upaya memperkuat budaya keselamatan di seluruh armada perusahaan. Program ini mendorong kapal dan awak kapal untuk terus meningkatkan penerapan keselamatan dalam setiap aktivitas operasional pelayaran.
Fleet Safety Excellence Award merupakan program yang ditujukan bagi kapal dan awak kapal PELNI, baik kapal penumpang, kapal perintis, kapal barang, kapal ternak maupun kapal rede. Program ini mencakup sejumlah aspek keselamatan, antara lain pelaksanaan emergency response dan safety drill, kepemimpinan keselamatan, pelaporan hazard dan near miss.
Sekretaris Perusahaan PELNI Ditto Pappilanda mengatakan keselamatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari operasional PELNI sebagai perusahaan pelayaran nasional. Karena itu, penguatan budaya keselamatan perlu dilakukan secara konsisten dan melibatkan seluruh awak kapal.
“Keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan operasional PELNI. Melalui Fleet Safety Excellence Award, kami ingin membangun kesadaran bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi menjadi komitmen bersama seluruh awak kapal untuk memastikan pelayaran berjalan aman dan andal,” ujar Ditto.
Program ini menyasar seluruh armada yang dioperasikan PELNI, meliputi 26 kapal penumpang, 30 kapal perintis, 9 kapal barang, 1 kapal ternak, dan 17 kapal rede. Peserta tidak hanya mencakup kapal sebagai unit operasional, tetapi juga Nakhoda, perwira, serta seluruh awak kapal yang memiliki peran dalam penerapan keselamatan, pengendalian risiko, dan kelancaran operasional kapal.
Dalam pelaksanaannya, Nakhoda menjadi pimpinan tertinggi di atas kapal yang bertanggung jawab terhadap implementasi keselamatan pelayaran dan penerapan International Safety Management (ISM) Code. Sementara itu, perwira dan seluruh awak kapal menjalankan fungsi keselamatan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing, termasuk dalam kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, pengendalian risiko, serta pelaporan potensi bahaya di atas kapal.
Pelaksanaan emergency response dan safety drill menjadi salah satu bagian penting dalam program ini. Struktur tanggap darurat di kapal melibatkan Nakhoda sebagai pimpinan, perwira dan awak kapal yang bertugas dalam pengendalian keadaan darurat, pemadaman kebakaran, pertolongan dan evakuasi, serta dukungan komunikasi dan operasional. Pembagian peran tersebut bertujuan memastikan setiap awak memahami tugasnya dan dapat merespons kondisi darurat secara cepat dan terkoordinasi.
Melalui program tersebut, PELNI mendorong peningkatan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, penerapan International Safety Management (ISM) Code, kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, serta partisipasi awak kapal dalam mengidentifikasi dan melaporkan potensi bahaya di lingkungan kerja.
Untuk mendukung keselamatan pelayaran, kapal-kapal PELNI sudah dilengkapi dengan berbagai alat keselamatan. Pada kapal penumpang tersedia 216 lifeboat dengan kapasitas 24.491 orang, 1.468 life-raft dengan kapasitas 36.700 orang, 70.671 life-jacket, 376 life-buoy, serta 25 Marine Evacuation System (MES). Secara keseluruhan, ketersediaan lifeboat dan life-raft pada kapal penumpang mencapai kapasitas 61.191 orang.
Sementara pada kapal perintis tersedia 84 lifeboat dengan kapasitas 4.438 orang, 600 life-raft dengan kapasitas 15.000 orang, 16.253 life-jacket, dan 310 life-buoy. Ketersediaan lifeboat dan life-raft pada kapal perintis mencapai kapasitas 19.438 orang. Seluruh alat keselamatan tersebut secara berkala dilakukan pengecekan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.
Jumlah alat keselamatan tersebut telah disesuaikan dengan ketentuan keselamatan yang berlaku, termasuk pemenuhan kapasitas alat keselamatan sebesar 125 persen dari kapasitas maksimal kapal. Pemenuhan alat keselamatan juga menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan kapal menghadapi berbagai kondisi darurat selama pelayaran.
Dalam Fleet Safety Excellence Award 2026, terdapat empat kategori yang menjadi bagian dari penilaian dan apresiasi, yaitu Emergency Response & Safety Drill Excellence, Safety Leadership Recognition, Best Hazard Reporting Excellence, serta The Best Fleet Safety Award.
Ditto menambahkan apresiasi melalui Fleet Safety Excellence Award diharapkan dapat mendorong setiap kapal untuk terus melakukan perbaikan dan mengembangkan praktik keselamatan dalam kegiatan operasional sehari-hari.
“Yang kami harapkan bukan hanya munculnya kapal-kapal dengan kinerja keselamatan yang baik, tetapi terbentuknya kebiasaan dan budaya keselamatan yang diterapkan secara konsisten di seluruh armada. Dengan begitu, upaya pencegahan risiko dapat menjadi bagian dari setiap proses kerja di atas kapal,” tambah Ditto.
PELNI terus berkomitmen menjalankan operasional pelayaran dengan mengedepankan keselamatan kapal, awak kapal, penumpang, muatan, dan lingkungan maritim. Penguatan sistem, kepatuhan terhadap prosedur, kesiapsiagaan, serta keterlibatan aktif seluruh awak kapal menjadi bagian dari upaya PELNI menghadirkan layanan transportasi laut yang aman, andal, dan berkelanjutan.
Kepala Cabang PELNI Makassar Ridwan Mandaliko menyampaikan bahwa kesesuaian manifest merupakan fondasi keselamatan pelayaran, bukan sekadar kelengkapan administrasi.
“Manifest adalah data yang menentukan keselamatan setiap orang di atas kapal. Jumlah penumpang harus sama dengan yang tercatat, dan tidak boleh melebihi kapasitas kapal. Dalam kondisi darurat, data yang akurat itulah yang memastikan setiap penumpang dapat ditangani dan diselamatkan,” ujar Ridwan.
Untuk menjaga akurasi data tersebut, PELNI Cabang Makassar menerapkan verifikasi tiga lapis kepada setiap penumpang, yaitu pencocokan tiket dengan identitas diri, pemeriksaan melalui autogate di pelabuhan, serta pemeriksaan ulang oleh petugas pada saat penumpang naik ke kapal. Selain itu, dilakukan sweeping di atas kapal sebelum keberangkatan. Penumpang yang tidak memiliki tiket akan diturunkan atau diarahkan membeli tiket apabila kuota masih tersedia.
PELNI Cabang Makassar juga memperkuat koordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Makassar serta PT Pelindo (Persero) melalui sinkronisasi data manifest dari tiga sumber, yakni badan usaha pelabuhan, perusahaan pelayaran, dan KSOP. Seluruh orang yang berada di atas kapal, termasuk keluarga awak kapal yang ikut berlayar, wajib tercatat dalam manifest.
“Keselamatan penumpang adalah tanggung jawab bersama. Kami bersinergi dengan KSOP dan Pelindo mulai dari penumpang memasuki pelabuhan hingga kapal lepas sandar, sehingga manifest yang disahkan benar-benar sesuai dengan jumlah orang di atas kapal,” lanjut Ridwan.
Dari sisi kesiapan sarana, kapal-kapal PELNI telah dilengkapi alat keselamatan sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk pemenuhan kapasitas alat keselamatan sebesar 125 persen dari kapasitas maksimal kapal. Pada kapal penumpang PELNI secara keseluruhan tersedia lifeboat dan life-raft dengan total kapasitas 61.191 orang, 70.671 life-jacket, 376 life-buoy, serta 25 Marine Evacuation System (MES). Seluruh alat keselamatan tersebut diperiksa secara berkala oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.
Ridwan menegaskan bahwa ketersediaan alat keselamatan tersebut hanya efektif apabila jumlah penumpang berada dalam batas kapasitas yang telah ditetapkan.
“Alat keselamatan dihitung berdasarkan kapasitas resmi kapal. Jika penumpang melebihi manifest, perlindungan yang tersedia tidak lagi mencukupi. Itulah alasan kami bersikap tegas terhadap penumpang tanpa tiket,” tegasnya.
Selain pengendalian manifest, Ridwan juga berkoordinasi langsung dengan Nakhoda dan awak kapal penumpang, kapal perintis, serta kapal tol laut yang singgah di Pelabuhan Makassar untuk melaksanakan latihan keadaan darurat secara berkala. Latihan tersebut mencakup pengendalian keadaan darurat, pemadaman kebakaran, serta pertolongan dan evakuasi penumpang.
“Keselamatan tidak cukup dijamin dengan peralatan. Awak kapal harus terlatih dan tahu persis perannya ketika terjadi keadaan darurat. Karena itu kami mendorong setiap kapal yang singgah di Makassar untuk rutin melaksanakan drill, sehingga respons awak kapal cepat, terkoordinasi, dan penumpang dapat dievakuasi dengan aman,” ujar Ridwan.
Langkah ini sejalan dengan kategori Emergency Response & Safety Drill Excellence dalam Fleet Safety Excellence Award 2026, yang menempatkan kesiapsiagaan awak kapal sebagai bagian penting dari budaya keselamatan PELNI.
PELNI Cabang Makassar mengimbau masyarakat untuk membeli tiket hanya melalui kanal resmi PELNI, membawa identitas diri yang sesuai dengan data pada tiket, datang lebih awal ke pelabuhan agar proses verifikasi berjalan lancar, serta mematuhi arahan petugas selama proses naik dan turun kapal.
Tentang PELNI
PELNI sebagai Perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang jasa pelayaran, saat ini mengoperasikan 84 kapal yang terdiri dari 26 kapal penumpang, 30 kapal perintis, 17 kapal rede, 9 kapal tol laut, serta 1 kapal ternak yang melayani masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam mendukung operasionalnya, PELNI memiliki 43 kantor cabang yang melayani 357 pelabuhan singgah melalui 1.111 ruas pelayaran, serta didukung oleh 306 terminal point yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
















