Maros, 10 Agustus 2026,redaksimedia.com- Bandara Internasional Sultan Hasanuddin berkolaborasi dengan Pemerintah
Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan menyelenggarakan
Pameran Museum Temporer yang berlangsung pada 7-16 Agustus 2026.
Kegiatan ini menghadirkan Tiga Museum yaitu Museum Mandala, Museum La Galigo, dan Museum
Karaeng Pattingalloang untuk memperkenalkan sejarah dan kekayaan budaya Sulawesi Selatan kepada
masyarakat dan pengguna jasa bandara.
Kehadiran pameran ini memberikan pengalaman berbeda bagi pengguna jasa dengan membawa lebih
dekat melalui cerita perjalanan sejarah daerah dan budaya Sulawesi Selatan. Melalui Kolaborasi ini,
pengguna jasa tidak hanya menikmati informasi sejarah, tetapi memperoleh pengalaman edukatif selama
di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Tidak hanya pameran, rangkaian kegiatan lainnya juga turut diramaikan dengan photobooth bersama
tokoh pahlawan serta lomba mewarnai. Aktivitas tersebut menjadi ruang interaksi yang edukatif dan
kreatif, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai sejarah dan budaya Sulawesi Selatan dengan cara yang lebih
menarik.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Hj. Andi Mirna, S.H., M.A.P sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Dan
Pariwisata Sulawesi Selatan dan Melani Simon Jufri sebagai Ketua DWP Sulawesi Selatan.
General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, mengatakan bahwa pameran
museum temporer di lingkungan bandara merupakan sebuah terobosan baru di Sulawesi Selatan,
khususnya dalam menghadirkan ruang edukasi dan budaya di area bandara.
Menurutnya, pengembangan pariwisata tidak hanya berkaitan dengan optimalisasi destinasi yang sudah
ada, tetapi juga dapat dilakukan dengan menciptakan ruang-ruang baru yang memberikan informasi dan
pengalaman bagi masyarakat.
“Ini merupakan sesuatu yang baru di Sulawesi Selatan, khususnya di bandara. Kami melihat bahwa
bandara memiliki potensi besar untuk menjadi ruang yang memperkenalkan berbagai informasi mengenai
sejarah, budaya, dan pariwisata Sulawesi Selatan. Dengan sekitar 27 ribu pengguna jasa yang beraktivitas
setiap harinya, tentu terdapat peluang besar untuk memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Ruly.
Ruly menambahkan, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin terbuka terhadap berbagai bentuk
kolaborasi pentahelix dengan pemerintah, akademisi, komunitas, maupun pemangku kepentingan lainnya
untuk mengoptimalkan ruang bandara agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Kami membuka ruang seluas-luasnya agar bandara dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, akademisi,
pemerintah, dan berbagai pihak lainnya. Bagi kami, ini merupakan langkah nyata untuk bersama-sama
membangun sebuah ekosistem yang menghubungkan transportasi, pariwisata, kebudayaan, dan edukasi.
Atas nama manajemen Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, kami mengapresiasi langkah dan
terobosan ini dan berharap kolaborasi seperti ini dapat terus dikembangkan ke depan,” tambahnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Andi Mirna, S.H., M.A.P.,
mengapresiasi kolaborasi bersama PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) dalam membawa museum lebih
dekat kepada masyarakat melalui ruang publik bandara. Menurutnya, kehadiran museum di bandara
menjadi sarana edukasi untuk mengenalkan sejarah dan warisan budaya Sulawesi Selatan kepada
masyarakat maupun wisatawan.
“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) yang telah
memberikan ruang dan membangun sinergi ini. Kolaborasi ini membuktikan bahwa fasilitas publik modern
dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian budaya lokal dan promosi pariwisata,” ujar Andi Mirna.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga meningkatkan pengetahuan dan
apresiasi masyarakat terhadap sejarah dan budaya Sulawesi Selatan, sekaligus menjadikan museum
sebagai bagian dari upaya memperkuat promosi pariwisata daerah.
Apresiasi juga disampaikan oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Sulawesi Selatan, Melani
Simon Jufri. Menurutnya, penyelenggaraan pameran museum temporer di Bandara Internasional Sultan
Hasanuddin sebagai langkah inovatif dalam memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Sulawesi
Selatan kepada masyarakat dan wisatawan.
“Bandara merupakan salah satu gerbang utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Karena
itu, menjadi ruang yang tepat untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan sejarah Sulawesi Selatan.
Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkolaborasi sehingga kegiatan ini dapat terlaksana,” ujar
Melani.
Melalui pameran temporer ini, Museum Mandala, Museum La Galigo, dan Museum Karaeng
Pattingalloang tidak hanya menjadi ruang penyimpanan dan pembelajaran sejarah, tetapi juga membawa
pengetahuan tersebut keluar dari ruang museum dan menjangkau masyarakat dalam ruang perjalanan
untuk mengenal lebih dekat identitas Sulawesi Selatan.
Bagi Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, kolaborasi ini turut memperkuat keterhubungan antara
transportasi, kebudayaan, dan pariwisata. Pameran Museum Temporer berlangsung hingga 16 Agustus 2026 dan dapat dinikmati oleh pengguna jasa maupun masyarakat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, lengkap dengan berbagai aktivitas edukatif dan interaktif.
















